Rabu, 06 Januari 2016

Dewa

Pagi itu di sebuah Masjid kecil di kota kelahiranku semua sibuk mempersiapkan perhelatan suci kami, untuk serangkaian kata indah,
"Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Kirana Lestari binti Mahmud dengan mas kawin cincin emas seberat 5 gram tunai."
Tunai pula ikrar Mas Dewa untuk mengikatku dalam ikatan suci pernikahan. Semua berbahagia. Kami duduk bagaikan Dewa Dewi yang paling sempurna kebahagiaannya.

Seminggu setelah pernikahan kami, aku dibawa oleh Mas Dewa ke sebuah kontrakan mungil yang asri. Disanalah kami memulai bisnis kami. Bisnis yang bergelut di bidang furniture, kami menjual barang impor. Dengan modal yang lumayan besar kami dapat untung yg lumayan besar pula, paling tidak beberapa perhiasan terbeli oleh kami, juga termasuk mencicil sebuah rumah mungil. Aku bahagia bersama Mas Dewa, perangainya baik juga gigih dalam usaha.

Suatu hari Mas Dewa pulang dengan wajah sangat bersemangat, belum masuk rumah saja sudah berteriak memanggilku.
"Dewi..Dewiii..."
Aku yang sedang memasak di dapur seketika menghentikan aktifitasku.
"Ya Mas ada apa? Kok dari luar sudah teriak teriak?" Kataku penasaran.

"Nanti dulu masaknya, sini bantu aku menghitung. Ini ada perusahaan yang mau pakai furniture kita untuk kantor barunya. Kami hampir deal, mereka sudah cocok tinggal nego akhir totalnya.". Mas Dewa terlihat senang sekali.

"Kok bisa deal cepet gitu Mas? Mereka udah yakin? Kapan mereka bisa cair termin awalnya?" Aku penasaran.

"Nah itu dia, hanya saja mereka minta administrasinya agak mundur. Paling gak setelah 80% barang sampai di kantor mereka. Mereka bilang itu karena mereka kantor baru, jadi belum bisa langsung cair dari kantor pusatnya."

"Terus nanti kita bayar barang yang kita impor dari mana uangnya?" Aku ngotot.

"Nanti aku cari pinjaman" Mas Dewa mantab menjawab.

"Aku gak mau kita rugi karena ini ya Mas". Ancamku.

Dan perdebatan itu berakhir. Aku melanjutkan memasakku.

**

Beberapa hari ini Mas Dewa kelihatan sibuk sekali. Sesekali ku dengar ia menyebut nama perusahaan yang kemarin ia ceritakan padaku. Untuk masalah ini aku serahkan pada Mas Dewa, karena nampaknya ia sangat antusias dengan proyek besar ini. Sedangkan aku mengurus orderan yang kecil kecil saja.

Handphoneku berdering, ada pesan masuk

"Dewi.. Sertifikat rumah kita bisa aku pinjam?"

Pesannya tak kubalas. Aku menduga Mas Dewa akan meminjam dana di Bank.

Hari berselang, kulihat Mas Dewa mulai sibuk dengan pengiriman barang ke perusahaan itu. Hingga pengiriman barang hampir selesai aku bertanya pada Mas Dewa,

"Mas, sesuai janji mereka akan bayar termin pertama sebentar lagi kan?"

"Ya.. Besok aku pastikan lagi."

Terbesit rasa bangga pada Mas Dewa yang benar gigih mencari nafkah untukku, namun entah kenapa seketika itu pula muncul rasa khawatirku.

**

Seminggu berlalu, kekhawatiran perlahan menjadi nyata perusahaan itu tak kunjung mencairkan dana padahal kami harus membayar kredit yang terlanjur menggunung. Kulihat Mas Dewa berusaha menyembunyikan kegalauannya, sampai akhirnya keluar juga sepatah kata dari bibirnya.
"Bolehkah aku gadaikan beberapa perhiasanmu Wi?" Tanyanya hati hati.

Tiba tiba ada rasa perih merayap,
Aku diam tanda tak terima.

Beberapa bulan ini aku merasa sungguh benar benar kesal dengan Mas Dewa, bagaimana tidak pada akhirnya semua perhiasanku habis digadaikan olehnya. Meskipun ia terus berjanji akan menggantinya jika masalah ini sudah selesai. Tak kuhiraukan perkataannya karena aku sudah terlanjur muak.

Dan malam itu aku marah sejadi jadinya,
"Aku udah gak kuat Mas! Hutang kamu itu udah menggunung! Sekarang apa, perhiasan sudah tidak ada bahkan rumah ini dalam hitungan hari harus di kosongkan!! Aku sudah berkali kali mengingatkanmu, tapi kamu terlalu baik dengan perusahaan abal abal itu! Kamu bisa apa sekarang hah??!! Pokoknya aku mau pisah dari kamu! Ceraikan aku!"

Pandanganku pada Mas Dewa benar benar tajam. Namun ia tidak berkata apapun, dia hanya diam.

Brak! Aku membanting pintu kamar.

**

Sudah seminggu aku mendiamkan Mas Dewa. Sarapannya hanya aku letakan di meja tanpa sepatah katapun. Aku mengurung diri di kamar. Ku dengar Mas Dewa pergi keluar dan ia tidak pulang hingga malam. Dan begitu terus hingga beberapa hari ini. Setelah kuamati rupanya ia mencoba memasukan penawaran desain interior ruang ke kantor-kantor.

Dan malam itu kulihat dia sangat lusuh, untuk pertama kalinya ia mengetuk pintu kamar dan memanggilku. Aku keluar,

"Wi..aku mau bicara.." katanya dengan pelan. Kuturuti maunya, kami duduk berhadapan di ruang tamu. Dan aku masih belum sudi untuk berkata.

"Aku sudah berkali kali minta maaf tapi tidak kamu maafkan. Aku sudah mencoba memperbaiki namun mungkin sudah terlanjur luka di hati kamu. Maafkan aku sebagai suami tidak bisa membahagiakanmu. Dan sekarang aku kabulkan keinginanmu." Tiba tiba suara Mas Dewa sangat berat, ia terdiam sejenak.

"Ya.. Aku ceraikan kamu"

Kami diam. Seketika itu ngilu di hatiku mendengar ucapannya. Tapi saat teringat lagi olehku betapa susahnya hidup dengannya, rasanya batin ini mulai meragu.

Dan malam itu adalah malam terakhir aku tinggal serumah dengan Mas Dewa. Kutinggalkan ia dengan sejuta kegalauannya. Aku langkahkan kakiku pulang ke rumah almarhum orang tuaku. Tak ada lagi amarah tiap harinya di rumah itu, dan tak ada lagi Mas Dewa.

**

Perlahan tapi pasti ku hapua bayang bayang Mas Dewa dari hidupku. Aku sudah melamar pekerjaan di sebuah kantor swasta di pusat kota. Aku tenggelam dengan sibuknya pekerjaan di kantor. Tak terasa sudah 4 tahun aku menjanda.

Padatnya lalu lintas dan lamanya perjalanan pulang terkadang membuatku tertidur di dalam angkutan kota. Dan tiba-tiba aku terbangun karena seorang lelaki tidak sengaja menyenggol kakiku, ia nampak terburu-buru turun dari angkutan ini. Saking terburu-burunya kulihat ada selembar kertas yang terjatuh dari sela sela mapnya. Belum sempat ku berikan, angkutan ini sudah terlanjur berangkat. Kuambil selembar kertas itu, rupanya gambar desain interior. Deg!

Memoriku langsung memutarkan bayang-bayang wajah Mas Dewa. Seketika itu pula secercah rindu tiba tiba menggelayut di hatiku. Bagaimana keadaan Mas Dewa sekarang? Perjalanan pulang dalam angkutan kota ini sungguh membawaku memutar kembali memori-memori indah bersama Mas Dewa. Tiap sudut-sudut kota yang kulewati memaksaku terus menerawang jauh saat bersama Mas Dewa. Dan kuakui aku merindu padanya. Rindu pada senyum Mas Dewa, rindu pada perhatiannya dan rindu pada semua perangai baik dan sabarnya. Ya, Mas Dewa memang orang yang baik. Ia gigih dalam usaha, hanya saja ia terlalu cepat percaya dengan orang lain, sehingga mudah ditipu. Ah, Mas Dewa.
Kutarik napas panjang. Aku ingin bertemu Mas Dewa, hanya ingin sekedar tahu kabarnya dan mengucapkan bahwa aku ingin meminta maafnya.

**

Setelah peristiwa dalam angkutan kemarin tiba tiba saja hari-hariku dipenuhi kerinduan yang sangat dalam pada Mas Dewa. Terbesit keinginan untuk kembali hidup bersamanya, makin hari keinginan ini makin besar saja untuk kembali rujuk dengan Mas Dewa. 

Dan seperti biasa sore ini sangat padat, terkadang lelah menunggu angkutan kota. Aku memegang ponselku sambil membolak balik layar, dan tanganku terhenti pada sebuah aplikasi ojek online yang baru beberapa hari lalu aku install. Tidak ada salahnya mencoba memesannya, batinku. Klik klik klik, kuikuti petunjuknya dan menunggu notifkasinya. Dan sungguh betapa terkejutnya aku saat notifikasi yang keluar adalah driver review dengan nama DEWANTARA ADI SATYA, dan foto yang sangat mirip dengan Mas Dewa juga dengan nomor ponsel yang sama dengan milik Mas Dewa. Tiba-tiba saja bulir bening mengalir deras dari mataku. Mas Dewa, ini Mas Dewa. Buru-buru aku batalkan orderan ojek online ini, aku belum siap bertemu dengannya sekarang.

Semakin yakin hati ini ingin bertemu dan kembali pada Mas Dewa. Yakin bahwa Mas Dewa adalah orang baik yang aku tinggalkan begitu saja hanya karena ia tidak mampu membahagiakanku saat itu. Saat dimana aku tidak bisa terima pada kondisinya yang kian terpuruk setelah jatuhnya bisnis kami dan Mas Dewa ditimpa hutang yang menggunung karena ditipu oleh perusahaan abal-abal itu. Aku merasa sungguh berdosa karena dengan teganya aku tinggalkan ia dalam kesusahan sedangkan dia hanya bisa diam saat amarah itu pecah dan diakhiri dengan kata ingin minta cerai. Harusnya saat itu aku dukung Mas Dewa dengan kesabaran penuh sebagai seorang istri. Penyesalan itu semakin mendalam ketika saat ini aku tahu Mas Dewa masih bersabar dengan keterpurukannya dengan menjadi sopir ojek online. Ia masih kuat untuk menghadapi masalah ini sendiri dengan berusaha sepenuh kekuatan yang ia punya. Air mata ini semakin deras mengalir, sesak di dada ini rasanya jika terus mengingat semua kenanganku dengan Mas Dewa. Kuputuskan aku akan mencarinya besok. 

**

Dalam taxi ini terus kepegang ponselku, membolak balik daftar phonebook. Sesekali jariku menunjuk ke arah kontak Mas Dewa, namun kuurungkan untuk menekan layarnya. Tidak, aku tidak perlu menghubunginya terlebih dahulu karena aku ingin membuat kejutan untuknya, aku ingin melihat ekspresinya saat bertemu denganku pertama kalinya. Sebentar lagi sampai di rumah Mas Dewa. Aku memang tahu rumah kontrakan Mas Dewa, karena beberapa tahun lalu aku masih sempat mencari tahu kabarnya dari seorang teman.

Dan taxiku berhenti tepat di depan rumahnya, aku keluar dan melangkahkan kaki ke depan pagar rumahnya. Seketika itu pula rindu ini kian membuncah untuk bertemu dengan Mas Dewa. Kudorong pagar yang tak terkunci itu, kulihat motor Mas Dewa tidak ada. Namun tetap kulangkahkan kaki mendekat ke pintu rumahnya. Aku mengetuknya dengan penuh harap.

Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka dan kudapati wajah seorang wanita berdiri di balik pintu itu.

Deg!

Seketika itu hatiku bagaikan dihantam godam begitu kerasnya. Ternyata Mas Dewa sudah menikah lagi. Langkah kakiku begitu lemah, dalam taxi perjalanan pulang aku hanya bisa menyandarkan tubuhku dan menangis sejadi jadinya. Kubiarkan taxi ini membawaku pergi dengan tak tentu arah, membawaku yang sedang memaksa diri untuk bisa menerima kenyataan bahwa aku merindu pada kekasih orang. Aku merindu pada mantan suamiku, yang tak mungkin bisa kumiliki lagi. Dan saat ini, kuhanya bisa bilang bahwa Dewantara Adi Satya adalah orang baik yang pantas mendapatkan seorang wanita yang lebih baik dari aku.
Aku hanya bisa membawa perih, sesal dan rindu ini untuk dikubur dalam relung hatiku yang paling dalam.

***






 








Jumat, 16 Oktober 2015

Guru Musafir

Alkisah tentang sebuah keluarga kecil yang mengeluh tentang kesempitan hidupnya di sebuah gubug kecil mereka. Sang istri dan suami hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Tibalah suatu malam sang suami duduk termenung di depan gubug mereka, dan datanglah seorang lelaki dengan baju yang agak lusuh, berpeci dan menggendong tas yang cukup besar. Berkatalah seorang lelaki yang baru datang itu,

"Assalamu'alaikum.. Maaf Saudaraku mengganggu istirahatnya. Bisakah kami meminta sedikit nasi sisa dari gubugmu?"

"Wa'alaikumsalam.. Oh yaa.. kami masih punya sedikit nasi. Masuklah.."

"Oh..tidak usah, kami tunggu diluar saja. Saya bersama anak dan istri saya"

Si empunya gubug menoleh ke samping, disebelah lelaki tadi ada seorang wanita setengah baya bergamis hitam dengan kerudung panjangnya bersama dua lelaki remaja yang memakai peci dan kain mirip sorban, juga dua orang anak kecil perempuan dengan jilbab lebar, dan yang satu lagi yang paling kecil anak laki-laki berpeci. Mereka tersenyum, seperti menemukan harapan baru. Masuklah sang suami ke gubug kecilnya menemui sang istri untuk mengambil nasi sisa yang mereka punya.

"Ummi.. Di depan sana ada orang yang meminta sedikit sisa nasi kita. Berikanlah.."

Sang istri segera mengambil mangkuk, namun yang tersisa hanyalah dua centong nasi merah yang mereka punya. Diambilnya semua nasi merah itu, sepotong ikan kecil, dan beberapa sendok sayur yang masih ada di gubug mereka. Juga air minum dituangkannya dalam bejana kecil. Sekiranya sang istri sambil berdoa. 

"Yaa..Allah meskipun sedikit yang mampu kami berikan untuk mereka, jadikanlah semangkuk nasi dan sedikit air di bejana ini menjadi pengurang beban mereka."

Sang istri keluar dan memberikan sebungkus panganan tadi kepada wanita paruh baya itu. Langsung saja sang wanita paruh baya tadi mencium tangan sang istri diikuti dengan anak2nya yang masih kecil. 

"Ini Ummi... Mohon maaf hanya sedikit nasi merah ini yang kami punya. Semoga bisa membantu." kata sang istri.

"Terima kasih.. Terima kasih Saudariku.." katanya dengan wajah berseri.

"Ya Ummi.. Dari mana sebelumnya?"

"Kami dari Marbath al-Muhrar ingin bertemu Saudara kami di Tabuk, namun dalam perjalanan pulang uang kami dicuri dan kami tidak punya apa-apa saat ini."

"MasyaaAllah.. kami antar kalian ke sampai keujung perbatasan sana nanti akan ada angkutan yang bisa kalian tumpangi."

"Tidak usah.. biar kami berjalan.. Terima kasih yaa Ukhti.."

Keluarga itu pergi sambil terus berucap terima kasih pada sang istri. Melihat keluarga itu berlalu sang istri pun masuk ke dalam rumah dan berucap pada sang suami.

"Apakah ada sedikit uang? Berikanlah pada mereka, dengan apa mereka bisa membayar angkutan yang akan mereka tumpangi sedang mereka baru saja kecurian." 

"Ya..aku ada sedikit uang, memang akan ku berikan untuk mereka. Memang tidak banyak tapi aku yakin ini akan sangat membantu mereka."

Sepasang suami istri ini pun bergegas menyusul keluarga musafir tadi dengan kereta kuda yang mereka punya. Tentunya keluarga tadi belum terlalu jauh. Benar saja, mereka masih berjalan sampai ke perbatasan. Dihampirilah keluarga tadi oleh sang istri sementara sang suami menunggu di kereta.

"Yaa..Ummi.. Kami ada sedikit uang untukmu. Terima lah.."

"Tidak..tidak usah Ukhti.. Kami sudah merepotkanmu dengan meminta nasi sisa di gubugmu.."

"Tak mengapa.. Terimalah.. Bukankah sesama muslim harus saling menolong..". Ditariknya tangan wanita paruh baya itu, digenggamkannya sedikit uang tadi.

"Terimalah..aku mohon."

"Terima kasih Ukhti..". Wanita paruh baya tadi langsung memeluknya erat..erat sekali. Seketika itu mengalir deras air mata sang istri, tak menyangka hatinya bahwa ditengah kesempitan rezeki yang ia alami masih ada yang jauh lebih sempit dan mereka masih terlihat tangguh. Fabiayyi alaa irobbikuma tukadzibaan..

"Ayo..ikut dalam kereta kami. Akan kami antar kalian ke perbatasan. Naiklah.. Kasihan anak-anak."
"Tidak.. terima kasih. Kami bau, biar kami berjalan.. Terima kasih terima kasih..." kata wanita itu.

"Tidak perlu Saudariku.. Biar kami berjalan, kami sudah merepotkanmu. Kaki kami sudah terlanjur lecet. Kembalilah pulang ke gubugmu. Kami ucapkan terima kasih." Sang lelaki berpeci ikut bersuara.

"Baiklah.. Semoga Allah menjaga kalian sampai pulang ke Marbath al-Muhrar."

                                                      ***

Kisah diatas singkat namun penuh arti bagi sepasang suami istri itu. Mereka makin sadar bahwa tidak ada kesulitan yang tidak akan Allah bantu. Sadar bahwa sesulit dan sesempit yang mereka alami ternyata Allah masih menguji lebih sempit pada orang lain, maka berhentilah mengeluh kepada Allah. Mereka juga sadar bahwa sesungguhnya rezeki manusia itu telah dijamin oleh Allah. Dan tangguhlah kami dalam setiap ujian yang diberikan Allah padamu. Dan malam itu mereka belajar dari keluarga musafir. 



 

Selasa, 29 September 2015

Video Hannan


Adek Hannan mulai makan.. Lap lep lap lep..

Menjadi Ibu itu... (3)

Aku mau bilang kalau badai itu pasti berlalu.. Dari postingan terakhir, alhamdulillah sekitar 5 hari kemudian anak2 berangsur sembuh. Si kakak kakinya sudah bisa jalan normal, demamnya sudah turun, matanya sudah sembuh dan batuknya berangsur hilang. Si Adek, batuknya juga berangsur hilang dan matanya juga sudah sembuh setelah aku bawa ke RS Mata Yap. Oya, aku belum cerita ya kalau setelah posting kemarin si Hannan matanya merah dan belekan. Huhuhu. Tapi alhamdulillah semua itu sudah berlalu. Dan yang menyenangkan juga, tanggal 16 - 20 September kemarin eyang kakung sama eyang uti dateng ke Yogya. Alhamdulillah udah pada sembuh. Senangnyaaaa.... Kami jalan2 ke tempat wisata air terjun Sri Gethuk Gunung Kidul. Dan barusan aja, tanggal 23 - 25 September kemarin nenek sama kakek juga dateng ke Yogya buat lebaran Idul Adha disini. Alhamdulillah seneng banget...

Ini nih buat flashback foto-foto kemarin..

Ini waktu anak2 masih seger alias belom sakit

Hannan 5 bulan


Saat mulai sakit, badannya menyusut..  
sayangnya foto kakak burem jadi gak di upload..
 



Yang ini waktu bolak balik RS untuk nebul Hannan..
 
Nebul pertama Hannan bobo

Nebul kedua bangun dan berontak
 Dan semua sudah sehat sekarang..


Kakak Faiq lagi sholat Ied (Idul Adha)

Adek Hannan udah ketawa-ketawa

Jumat, 11 September 2015

Menjadi Ibu itu... (2)

Hari ini di dada rasanya beraaat sekali, hatinya seperti ada sesuatu yang mengganjal berat tapi rapuh. Mungkin jika disenggol sedikit bisa membuncahkan air mata yang susah berhentinya. Aku lanjutin cerita kemarin yaa...

Dua hari lalu, tanggal 9 September aku pulang ke rumah dengan perasaan yang bener-bener khawatir dengan anak2. Dan entah kenapa rasanya badanku hari itu benar-benar ingin rubuh. Siangnya di kantor aku sudah seperti tidak punya daya upaya untuk bangkit. AC di ruangan pun aku minta untuk dimatikan karena sudah bener2 gak kuat. Tapi ingat bahwa aku harus bawa si Kakak ke dokter Faskes lagi, mau gak mau aku harus kuat..kuat..kuat.
Karena matanya yang belekan belum dapat resep dokter dan demamnya pun belum turun. Akhirnya setelah sampai rumah aku langsung salin pakaian dan langsung pergi lagi ke dokter.

Singkat cerita dari dokter aku keluhkan sakit si Kakak, adiknya dan aku sendiri. Si Kakak dengan mata belekan dan demamnya. Si Adik juga dengan mata belekannya karena tertular Faiq. Dan aku sendiri batuk yang belum reda. Sampai di rumah, rasanya seperti mau ambruk. Dan benar, aku demam. Badan rasanya seperti ditusuk2, sakit semua. Terlebih lagi aku masih harus tetap bangun malam berkali2 karena si Adik masih terus terusan batuk. Alhamdulillah paginya aku sudah lebih baik. 

Dan Kamis, 10 September si Adik jadwalnya terapi nebul. Aku ijin keluar kantor, alhamdulillah setelah konsul ke dokter aku bisa memilih opsi untuk tidak mondok. Aku gak kebayang kalo dokter itu bilang Hannan si Adik harus mondok. Entah bagaimana dunia hari itu rasanya. Dan karena opsinya boleh tidak mondok, maka Hannan harus terapi nebul rutin 3 hari ini. Oke, baiklah setidaknya itu sudah cukup membuat aku lebih tenang. Aku pulang sampai di rumah, aku pikir semua akan berjalan baik-baik saja ke depan karena anak-anak sudah punya obat dan mereka harus istirahat. Tapi dugaanku ternyata salah, si Kakak mimisan.

Aku pegang kepalanya panas sekali, mungkin ini karena terlalu panas sampai-sampai dia mimisan. Aku yang tadinya berencana setelah nebul Hannan harus balik kantor terpaksa aku undur, rasanya tega sekali aku sebagai Ibu langsung balik kantor ngelihat anak mimisan karena demam tinggi. Langsung aku ambil handuk kecil basah, aku tempelkan di dahinya. Aku ajak dia mandi dengan air hangat. Kamu tau Kakak bilang apa?.

"Ummi.... Ummi di rumah kan?" , "Kalo ummi balik ke kantor Faiq sama siapa?"
Dengar dia bilang begitu rasanyaaaaa masyaaAllah..

Lalu aku bilang, "Ummi harus balik kantor Nak.. nanti Ummi langsung pulang."
Jujur sebetulnya aku ingiiiiin banget tidak jadi masuk kerja. Tapi aku sudah bolak balik izin berkali2

Faiq masih terus tanya dengan airmata yang sudah hampir tumpah. Duh!

Aku balik kantor dengan perasaan yang bener-bener kacau sambil terus berdoa sepanjang jalan. 

Malamnya aku putuskan untuk ke sekian kalinya ke dokter Faskes, untuk meminta rujukan ke dokter lanjutan. Dan benar saja, setelah aku cerita bahwa Kakak mimisan dokternya langsung rujuk ke dokter anak. Karena salah satu indikator Demam Berdarah adalah demam di hari ke 4/5 disertai keluarnya bintik merah di tubuh atau mimisan. Akhirnya kami dapat rujukan BPJSnya, untuk besoknya (hari ini 11 Sept) dibawa ke dokter anak. Kami sudah mengantongi pengantar rujukan BPJSnya. Dan semalam setelah dari dokter Faskes kami putuskan untuk makan malam di luar, dan saat baru akan makan kakak mimisan lagi. Aku mungkin bukan Ibu yang sangat tangguh ya.. karena melihat Kakak yang benar2 lemas, mata sakit dan merah, demam tinggi dan mimisan. Tanganku langsung gemetar dan langsung rasanya airmata ingin pengen keluar gitu aja. Aku pegang dahinya panas. Aku dan suami langsung putuskan untuk bawa ke dokter anak malam ini juga.

Setelah sampai di RS yang dituju aku langsung daftar ke Poli Anak, dan ternyata Polinya baru saja bubar. Rujukan BPJS masih ditanganku, aku minta tolong anakku di periksa dan kami ke IGD. Ada yang aneh sebelum aku masuk ke IGD, berkas BPJS kami tidak dilampirkan. AKhirnya aku  tanyakan itu ke bagian admin tadi. Ternyata rujukan BPJS kami tidak bisa digunakan, karena ditujukan ke Dokter Anak, bukan IGD. IGD punya standar sendiri itu dikatakan Emergency. Singkatnya semalam kami dianggap pasien umum dan menghabiskan Rp. 350.000,-. Panasnya kakak dideteksi hanya 36,8 derajat, entah itu termometernya yang bermasalah ataukah karena udara dingin di luar atau apa sehingga panasnya hanya 36,8. Padahal jelas2 Faiq panas sekali sampai mimisan. Rujukan BPJS yang ku pegang sudah jadi "sampah" tidak berguna sama sekali. Karena terbentur syarat dan standar Emergency BPJS. Kecewa?? sudah sangat jelas saya kecewa. Saya sangat kecewa. Karena dana yang kami siapkan memang kurang, terlebih lagi dengan sederet ceritaku kami sudah menghabiskan cukup banyak. Hal itu dikarenakan tidak terfasilitasinya oleh Jaminan Pemerintah. Si Adik yang harusnya sudah dari awal bulan Agustus terima kartu BPJS tapi karena kartu itu tidak kunjung keluar jadi masih dianggap pasien umum, dan bahkan yang jelas-jelas sudah membawa persyaratan komplit pun masih tetap tidak bisa dilayani dengan jaminan karena tidak sampai pada syarat minimal Emenrgency bagi pelayanan BPJS.
Dan hari ini saat menulis ini hatiku masih beraaat sekali, berat karena memikirkan anak2 yang belum kunjung sembuh. Doakan kami yaa... Dan terbukti memang bahwa menjadi Ibu itu adalah hal yang luar biasa. Tiba-tiba sangat rindu dengan Ibu nun jauh disana. Luv u Mom..

Rabu, 09 September 2015

Menjadi Ibu itu...

Bulan ini bulan-bulan lagi diuji nih.. Anak2 pada sakit, emaknya juga..
Sakit yang udah mainstream tapi yaa gitu deh lama banget sembuhnya. Batuk pilek. Kenapa ya penyakit sekarang susah banget sembuhnya. Mulai dari yang Kakak, Si Faiq.. Sekitar 1 minggu yang lalu tepatnya Selasa, 1 September dia ngeluh sakit kakinya. Aku pikir cuma karena kecapekan atau keseleo biasa, maklum nih anak geraknya banyak banget. Perawakannya emang kurus, tapi jangan salah..makannya banyak loh, udah minum obat cacing juga gak ngaruh. Aku duga makanan dia habis di tenaga gerak dia. Nah balik ke keluhan sakit kakinya, akhirnya Selasa pagi itu juga aku panggil Mbah Pijet deket rumah. Telat ke kantor udah pasti, secara si Mbah tadi pas aku samperin jemput ke rumahnya masih pakai kutang alias baru habis mandi. Jadilah yaa aku nunggu dulu Mbah itu bersiap, terus anter ke rumah. Terus aku langsung bablas ke kantor dengan perasaan yang agak was was moga-moga gak kenapa-kenapa.

Siangnya aku WA suami, aku tanya gimana si Kakak, ternyata jawabnya
"Anaknya nangis-nangis Mi teriak-teriak kesakitan. Kata Mbahnya ini jatuh sudah lama mungkin 4/5 hari."
Duh.
Sorenya, sampai di rumah langsung aku tanya apa bener dia jatuh? Ternyata gak ngaku2. Sampai aku bingung sendiri gimana cara ngomongnya biar dia jujur. Sudah pake ilmu disayang-sayang tetep gak ngaku. Dan singkat cerita 3 hari setelah dipijat tidak ada perubahan bahkan jalannya makin susah dan kesakitan. Dan malamnya aku mikir gimana caranya biar dia jujur. Oh ya, udah 2 malem sejak pijat itu di ngigo. Kasian kan. 
Akhirnya pas besoknya aku tanya dengan cara lain, yakni intinya nanya dia jatuh atau gak tapi pake acara muter2 dulu tanyanya. Daaaan akhirnya dia bilang kalo dia main jatuh-jatuhan dengan temannya di Kelas waktu istirahat. Tau gak sih? gaya kalo pemain bola selebrasi setelah nge-gol-in. Yang lari terus glesotan meluncur pake lutut?? Nah begitulah kira2 posisinya. Mungkin saat dia jatuh itu posisinya gak bener.

Setelah ngaku, aku cerita sama suami. Akhirnya kami bawa si Kakak ke Terapi Fisik UNY. Disana biasa dikunjungi sama atlet2 yang cidera atau orang-orang yang habis jatuh karena kecelakaan. Dan setelah kami bawa kesana, berita menyedihkan datang dari terapisnya. Kakak di duga dislokasi tulang pinggul. Sedih! Denger begitu rasanyaaaaa... MasyaaAllah. 
Dan akhirnya di sarankan untuk rontgen ke dokter Orthopedic. Lalu dengan bekal kartu BPJS besoknya aku dan suami langsung meluncur ke dokter Faskes untuk meminta rujukan ke dokter Orthopedic. Akhirnya kami dirujuk ke RS Condong Catur. Tiga hari bolak balik kesana akhirnya kami dapet hasil rontgennya. Dan benar saja, tulang pangkal paha yang harusnya berada tepat di dalam "mangkuk" tulang duduknya bergeser. Dan ini harus segera ditangani. Aku pikir sudah langsung bisa disitu juga ternyata eh ternyata beliau itu dokter bedah Orthopedic bukan Orthopedic nya, sehingga kami harus dirujuk lagi ke RS Hardjo Lukito. Dibuatkan pengantar rujukan, eh ternyata kudu minta cap di Kantor BPJS. Akhirnya daripada kelamaan, suamiku memutuskan untuk balik lagi ke Terapi Fisik UNY dengan membawa hasil rontgennya. 

Dan Sabtu 5 September kemarin, akhirnya kami ke Terapi Fisik UNY. Dan yang aku was was kan akhirnya aku lihat di depan mata. Kaki Faiq di tarik di pijat sampai bunyi "KLEK". Haduuuuuh!! itu ya rasanya kalo ngeliat anak kandung ngeringis kesakitan sambil genggam tangan Ibunya itu rasanya seperti pengen gantiin diri jadi dia. Huhuhu. Alhamdulillah Faiq tergolong anak yang kuat nahan sakit. Dia cuma nangis tanpa suara sambil genggam tanganku dan bilang dengan suara pelan "sakit Mi...sakit Mi". Aku cuma bisa peluk kepalanya sambil bilang " Iya Kak, lemesin badannya Nak. Sabar yaa..sabar...". Dramatik lah bagiku saat2 itu. 

Dan moment dramatik itu akhirnya berakhir juga. Fiuh. Sama terapisnya Faiq diminta untuk terapi sendiri di rumah dengan cara jalan disatu garis ubin, supaya kakinya kalo jalan rapet. Khawatirnya kalo gak dilatih akan jadi kebiasaan sampai besar jalannya bengkok. Sudah berakhir kah? Belum. Karena sehari sebelum ke Terapi Fisik, mata Faiq belekan. Dan dia demam. Aku duga belekan ini datengnya saat kami bolak balik rumah sakit, Poli Orthopedic itu sebelahnya Poli Mata. Huhuhu. Aku ngeliat Faiq kasian banget. Belumlah pulih kakinya, matanya belekan, demam melanda plus batuk yang dari kemarin belum sembuh juga. Sabar yaa Nak. Yang lebih kasian lagi, dia harus tidur terpisah. Aku yang biasanya tidur dengan 2 anak jagoanku, sekarang yang satu harus "dikucilkan" khawatir nularin adiknya. 2 malam ini berlangsung sangat penuh pengorbanan. Tiap jam bangun malem untuk ngecek posisi tidur Faiq yang gak boleh sembarangan selama pemulihan, ngecek suhu badannya, bolak balik kompres, dan bersihin belek dimatanya, gosokin dadanya dengan minyak biar anget. Yang satunya si Adek juga bolak balik batuk dan dinenenin.

Itu tadi si Kakak, kalo si Adiknya udah 1,5 bulan batuknya gak sembuh-sembuh udah 4 kali ke dokter, 2 kali dokter umum, 2 kali dokter anak. Dikasi resep antibiotik + obat batuk dan nebul 3 x, nebul pertama dia bobo, tapi nebul selanjutnya bangun dan nangis-nangis. Tapi gak papa katanya malah dia nangis makin dia hirup dan lendir dahaknya makin keluar. Dokter bilang 3 hari kemudian kalo tidak ada perubahan diminta kontrol balik dan kemungkinan diminta mondok. Sedih lagi! Sudah selesai? belum. Sekarang si Adik ketularan belekan. Oh God!. Gak ngebayangin bayi 6 bulan belekan. Kasian banget kan. Hiks. 

Dan untuk kesekian kalinya kami ke dokter lagi semalam. Dan pagi ini dengan perasaan yang masih menggalau, rasanya pengen gak masuk kerja. Tapi aku udah ijin dua kali kemarin. Akhirnya aku tetep masuk dengan seabreg pesan untuk suamiku juga siapin obat-obat untuk anak-anaku. Dan aku sendiri masih batuk udah seminggu belum sembuh-sembuh.

Doakan kami yaaa.. Dan dari sini aku bener2 merasa bahwa ternyata jadi Ibu itu adalah hal yang luar biasa. Kamu harus siap untuk berjaga tiap malamnya, kamu harus tahan melihat anakmu mengeluh, kamu harus siap tertular sakit demi tetap selalu ada untuk si kecil, kamu harus siap untuk punya beribu-ribu kesabaran, siap untuk menahan marah saat anak lagi-lagi mengulang kesalahan dan menahan untuk tidak berkata-kata buruk di depan anak. Dan sejuta kesiapan lainnya. Karena surga di telapak kaki Ibumu.