Rabu, 07 November 2018

07.11.2018

07.11.2018 23:19

Duduk di sudut ruang tamu, sendirian. Hanya ditemani suara desir kipas angin berjarak 2 meter.
Menunggu seseorang di ujung sana yang entah pulang pukul berapa dari aktifitasnya, tidak bisa dihubungi karena miskin sinyal. Mungkin harusnya aku bisa saja tidur, tapi tidak..aku memilih menunggunya.

Beberapa jam lalu rumah ini ramai sekali, ramai suara dua bocah yang berseteru entah berebut, berteriak atau menangis. Tapi sekarang senyap karena dua raga itu sedang terlelap dan ruhnya sedang berpindah tempat untuk bermain main di alam mimpi.

Beberapa menit lalu, jariku sibuk memainkan ponsel yang tiba tiba saja mengarahkan kursor untuk masuk ke dalam blog yang mati suri ini. Membaca postingan lampau dengan gaya bahasaku yang ternyata aku sadari aku adalah orang yang periang, banyak bicara dan sedikit konyol. Cuma tersenyum simpul sambil berfikir, How Come??? Aku bisa nulis begitu. Ternyata seiring bertambahnya masalah hidup membuat manusia manusia cepat dewasa itu adalah benar.


07.11.2019 23:29

Tiba tiba air mata mengalir. Kenapa? Aku juga tidak tau..


07.11.2019 23.40

Baru bisa melanjutkan menulis setelah mata sembab. Mungkin memang menangis yang aku butuhkan. Lebih lega rasanya. Walaupun persisnya apa yang aku rasakan aku juga tidak tau. Karena hanya dengan memejamkan mata begiiiitu banyak hal yang terlintas.

Wahai hati..berdamailah dengan keadaan. Apapun yang sudah terlalui adalah sebuah hal yang harus kamu selesaikan dengan damai pula. Benar, jika kamu menyadari bahwa kamu tidaklah sempurna meskipun ayah bundamu memberikan nama A Nindita Yasha dimana berarti bahwa kamu sedang membangun dan bangunanmu itu tanpa cacat. Dan jika saja saat ini kau dapati bahwa bangunanmu catat ataubahkan hampir hancur yakinlah bahwa bukan namamu yang salah. Tapi ini adalah ujian hidupmu agar kamu menjadi bangunan yang lebih kuat.


07.11.2018 23:46

Masih terus menyeka air mata yang mengalir lagi..


07.11.2018 23:48

Tarik nafas panjang.. Mungkin karena terlalu banyak yang aku rasakan membuatku tak mampu jujur bahkan hanya untuk menuliskan rasa di blog ini. Doakan saja aku baik baik saja. Ku doakan juga kamu, dia dan lainnya mampu melihat dan menjalani semua masalah dengan bijak.


07.11.2018 23:51

Masih duduk di sudut ruang, dengan sesekali menyeka air mata.





Senin, 08 Oktober 2018

Hujan, Angin dan Ilalang

Pernah hujan membasahi ilalang.. hujan yang diselingi sinar mentari yang menerpa di sela sela liukan ilalang yang menari.. Hujan yang selalu datang dengan deras maupun rintiknya, tak masalah bagi ilalang karena masih ada cinta dari sang mentari yang mampu memberi kehangatan..

Hujan dan mentari itulah yang membuat ilalang dapat tumbuh dan meliuk liuk dengan indahnya..

Mentari masih tetap menyinari..namun nampaknya hujan mulai enggan untuk menurunkan bulir beningnya yang pernah menyejukan ilalang.. Sekali dua kali hujan turun tapi  tidak dengan irama yang dirindukan ilalang.. Dan sampai akhirnya ilalang sadar bahwa hujan enggan turun lagi, tapi sang mentari masih tetap menyinari padang ilalang yang mulai tandus.. Hujan sombong, gerutu ilalang.. Entah apa yang disibukan hujan sehingga ia tidak kembali membasahi ilalang.. Hanya tanya yang ada pada ilalang..

Sampai ilalang menyadari bahwa hujan benar benar tidak datang untuknya.. Ilalang terkulai. Hujan tak peduli.

Disela kerinduan ilalang akan hujan, bertiup lembut angin menerpa ilalang.. ilalang menari..yaaa menari dengan riang tapi tanahnya tetap merasa kering karena merindukan hujan.. hujan yang tak lagi peka bahwa ilalang membutuhkannya.. bahwa ilalang menari karena angin hanyalah membawa keriangan semu..

Lalu kapan hujan turun lagi??


Rabu, 06 Januari 2016

Dewa

Pagi itu di sebuah Masjid kecil di kota kelahiranku semua sibuk mempersiapkan perhelatan suci kami, untuk serangkaian kata indah,
"Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Kirana Lestari binti Mahmud dengan mas kawin cincin emas seberat 5 gram tunai."
Tunai pula ikrar Mas Dewa untuk mengikatku dalam ikatan suci pernikahan. Semua berbahagia. Kami duduk bagaikan Dewa Dewi yang paling sempurna kebahagiaannya.

Seminggu setelah pernikahan kami, aku dibawa oleh Mas Dewa ke sebuah kontrakan mungil yang asri. Disanalah kami memulai bisnis kami. Bisnis yang bergelut di bidang furniture, kami menjual barang impor. Dengan modal yang lumayan besar kami dapat untung yg lumayan besar pula, paling tidak beberapa perhiasan terbeli oleh kami, juga termasuk mencicil sebuah rumah mungil. Aku bahagia bersama Mas Dewa, perangainya baik juga gigih dalam usaha.

Suatu hari Mas Dewa pulang dengan wajah sangat bersemangat, belum masuk rumah saja sudah berteriak memanggilku.
"Dewi..Dewiii..."
Aku yang sedang memasak di dapur seketika menghentikan aktifitasku.
"Ya Mas ada apa? Kok dari luar sudah teriak teriak?" Kataku penasaran.

"Nanti dulu masaknya, sini bantu aku menghitung. Ini ada perusahaan yang mau pakai furniture kita untuk kantor barunya. Kami hampir deal, mereka sudah cocok tinggal nego akhir totalnya.". Mas Dewa terlihat senang sekali.

"Kok bisa deal cepet gitu Mas? Mereka udah yakin? Kapan mereka bisa cair termin awalnya?" Aku penasaran.

"Nah itu dia, hanya saja mereka minta administrasinya agak mundur. Paling gak setelah 80% barang sampai di kantor mereka. Mereka bilang itu karena mereka kantor baru, jadi belum bisa langsung cair dari kantor pusatnya."

"Terus nanti kita bayar barang yang kita impor dari mana uangnya?" Aku ngotot.

"Nanti aku cari pinjaman" Mas Dewa mantab menjawab.

"Aku gak mau kita rugi karena ini ya Mas". Ancamku.

Dan perdebatan itu berakhir. Aku melanjutkan memasakku.

**

Beberapa hari ini Mas Dewa kelihatan sibuk sekali. Sesekali ku dengar ia menyebut nama perusahaan yang kemarin ia ceritakan padaku. Untuk masalah ini aku serahkan pada Mas Dewa, karena nampaknya ia sangat antusias dengan proyek besar ini. Sedangkan aku mengurus orderan yang kecil kecil saja.

Handphoneku berdering, ada pesan masuk

"Dewi.. Sertifikat rumah kita bisa aku pinjam?"

Pesannya tak kubalas. Aku menduga Mas Dewa akan meminjam dana di Bank.

Hari berselang, kulihat Mas Dewa mulai sibuk dengan pengiriman barang ke perusahaan itu. Hingga pengiriman barang hampir selesai aku bertanya pada Mas Dewa,

"Mas, sesuai janji mereka akan bayar termin pertama sebentar lagi kan?"

"Ya.. Besok aku pastikan lagi."

Terbesit rasa bangga pada Mas Dewa yang benar gigih mencari nafkah untukku, namun entah kenapa seketika itu pula muncul rasa khawatirku.

**

Seminggu berlalu, kekhawatiran perlahan menjadi nyata perusahaan itu tak kunjung mencairkan dana padahal kami harus membayar kredit yang terlanjur menggunung. Kulihat Mas Dewa berusaha menyembunyikan kegalauannya, sampai akhirnya keluar juga sepatah kata dari bibirnya.
"Bolehkah aku gadaikan beberapa perhiasanmu Wi?" Tanyanya hati hati.

Tiba tiba ada rasa perih merayap,
Aku diam tanda tak terima.

Beberapa bulan ini aku merasa sungguh benar benar kesal dengan Mas Dewa, bagaimana tidak pada akhirnya semua perhiasanku habis digadaikan olehnya. Meskipun ia terus berjanji akan menggantinya jika masalah ini sudah selesai. Tak kuhiraukan perkataannya karena aku sudah terlanjur muak.

Dan malam itu aku marah sejadi jadinya,
"Aku udah gak kuat Mas! Hutang kamu itu udah menggunung! Sekarang apa, perhiasan sudah tidak ada bahkan rumah ini dalam hitungan hari harus di kosongkan!! Aku sudah berkali kali mengingatkanmu, tapi kamu terlalu baik dengan perusahaan abal abal itu! Kamu bisa apa sekarang hah??!! Pokoknya aku mau pisah dari kamu! Ceraikan aku!"

Pandanganku pada Mas Dewa benar benar tajam. Namun ia tidak berkata apapun, dia hanya diam.

Brak! Aku membanting pintu kamar.

**

Sudah seminggu aku mendiamkan Mas Dewa. Sarapannya hanya aku letakan di meja tanpa sepatah katapun. Aku mengurung diri di kamar. Ku dengar Mas Dewa pergi keluar dan ia tidak pulang hingga malam. Dan begitu terus hingga beberapa hari ini. Setelah kuamati rupanya ia mencoba memasukan penawaran desain interior ruang ke kantor-kantor.

Dan malam itu kulihat dia sangat lusuh, untuk pertama kalinya ia mengetuk pintu kamar dan memanggilku. Aku keluar,

"Wi..aku mau bicara.." katanya dengan pelan. Kuturuti maunya, kami duduk berhadapan di ruang tamu. Dan aku masih belum sudi untuk berkata.

"Aku sudah berkali kali minta maaf tapi tidak kamu maafkan. Aku sudah mencoba memperbaiki namun mungkin sudah terlanjur luka di hati kamu. Maafkan aku sebagai suami tidak bisa membahagiakanmu. Dan sekarang aku kabulkan keinginanmu." Tiba tiba suara Mas Dewa sangat berat, ia terdiam sejenak.

"Ya.. Aku ceraikan kamu"

Kami diam. Seketika itu ngilu di hatiku mendengar ucapannya. Tapi saat teringat lagi olehku betapa susahnya hidup dengannya, rasanya batin ini mulai meragu.

Dan malam itu adalah malam terakhir aku tinggal serumah dengan Mas Dewa. Kutinggalkan ia dengan sejuta kegalauannya. Aku langkahkan kakiku pulang ke rumah almarhum orang tuaku. Tak ada lagi amarah tiap harinya di rumah itu, dan tak ada lagi Mas Dewa.

**

Perlahan tapi pasti ku hapua bayang bayang Mas Dewa dari hidupku. Aku sudah melamar pekerjaan di sebuah kantor swasta di pusat kota. Aku tenggelam dengan sibuknya pekerjaan di kantor. Tak terasa sudah 4 tahun aku menjanda.

Padatnya lalu lintas dan lamanya perjalanan pulang terkadang membuatku tertidur di dalam angkutan kota. Dan tiba-tiba aku terbangun karena seorang lelaki tidak sengaja menyenggol kakiku, ia nampak terburu-buru turun dari angkutan ini. Saking terburu-burunya kulihat ada selembar kertas yang terjatuh dari sela sela mapnya. Belum sempat ku berikan, angkutan ini sudah terlanjur berangkat. Kuambil selembar kertas itu, rupanya gambar desain interior. Deg!

Memoriku langsung memutarkan bayang-bayang wajah Mas Dewa. Seketika itu pula secercah rindu tiba tiba menggelayut di hatiku. Bagaimana keadaan Mas Dewa sekarang? Perjalanan pulang dalam angkutan kota ini sungguh membawaku memutar kembali memori-memori indah bersama Mas Dewa. Tiap sudut-sudut kota yang kulewati memaksaku terus menerawang jauh saat bersama Mas Dewa. Dan kuakui aku merindu padanya. Rindu pada senyum Mas Dewa, rindu pada perhatiannya dan rindu pada semua perangai baik dan sabarnya. Ya, Mas Dewa memang orang yang baik. Ia gigih dalam usaha, hanya saja ia terlalu cepat percaya dengan orang lain, sehingga mudah ditipu. Ah, Mas Dewa.
Kutarik napas panjang. Aku ingin bertemu Mas Dewa, hanya ingin sekedar tahu kabarnya dan mengucapkan bahwa aku ingin meminta maafnya.

**

Setelah peristiwa dalam angkutan kemarin tiba tiba saja hari-hariku dipenuhi kerinduan yang sangat dalam pada Mas Dewa. Terbesit keinginan untuk kembali hidup bersamanya, makin hari keinginan ini makin besar saja untuk kembali rujuk dengan Mas Dewa. 

Dan seperti biasa sore ini sangat padat, terkadang lelah menunggu angkutan kota. Aku memegang ponselku sambil membolak balik layar, dan tanganku terhenti pada sebuah aplikasi ojek online yang baru beberapa hari lalu aku install. Tidak ada salahnya mencoba memesannya, batinku. Klik klik klik, kuikuti petunjuknya dan menunggu notifkasinya. Dan sungguh betapa terkejutnya aku saat notifikasi yang keluar adalah driver review dengan nama DEWANTARA ADI SATYA, dan foto yang sangat mirip dengan Mas Dewa juga dengan nomor ponsel yang sama dengan milik Mas Dewa. Tiba-tiba saja bulir bening mengalir deras dari mataku. Mas Dewa, ini Mas Dewa. Buru-buru aku batalkan orderan ojek online ini, aku belum siap bertemu dengannya sekarang.

Semakin yakin hati ini ingin bertemu dan kembali pada Mas Dewa. Yakin bahwa Mas Dewa adalah orang baik yang aku tinggalkan begitu saja hanya karena ia tidak mampu membahagiakanku saat itu. Saat dimana aku tidak bisa terima pada kondisinya yang kian terpuruk setelah jatuhnya bisnis kami dan Mas Dewa ditimpa hutang yang menggunung karena ditipu oleh perusahaan abal-abal itu. Aku merasa sungguh berdosa karena dengan teganya aku tinggalkan ia dalam kesusahan sedangkan dia hanya bisa diam saat amarah itu pecah dan diakhiri dengan kata ingin minta cerai. Harusnya saat itu aku dukung Mas Dewa dengan kesabaran penuh sebagai seorang istri. Penyesalan itu semakin mendalam ketika saat ini aku tahu Mas Dewa masih bersabar dengan keterpurukannya dengan menjadi sopir ojek online. Ia masih kuat untuk menghadapi masalah ini sendiri dengan berusaha sepenuh kekuatan yang ia punya. Air mata ini semakin deras mengalir, sesak di dada ini rasanya jika terus mengingat semua kenanganku dengan Mas Dewa. Kuputuskan aku akan mencarinya besok. 

**

Dalam taxi ini terus kepegang ponselku, membolak balik daftar phonebook. Sesekali jariku menunjuk ke arah kontak Mas Dewa, namun kuurungkan untuk menekan layarnya. Tidak, aku tidak perlu menghubunginya terlebih dahulu karena aku ingin membuat kejutan untuknya, aku ingin melihat ekspresinya saat bertemu denganku pertama kalinya. Sebentar lagi sampai di rumah Mas Dewa. Aku memang tahu rumah kontrakan Mas Dewa, karena beberapa tahun lalu aku masih sempat mencari tahu kabarnya dari seorang teman.

Dan taxiku berhenti tepat di depan rumahnya, aku keluar dan melangkahkan kaki ke depan pagar rumahnya. Seketika itu pula rindu ini kian membuncah untuk bertemu dengan Mas Dewa. Kudorong pagar yang tak terkunci itu, kulihat motor Mas Dewa tidak ada. Namun tetap kulangkahkan kaki mendekat ke pintu rumahnya. Aku mengetuknya dengan penuh harap.

Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka dan kudapati wajah seorang wanita berdiri di balik pintu itu.

Deg!

Seketika itu hatiku bagaikan dihantam godam begitu kerasnya. Ternyata Mas Dewa sudah menikah lagi. Langkah kakiku begitu lemah, dalam taxi perjalanan pulang aku hanya bisa menyandarkan tubuhku dan menangis sejadi jadinya. Kubiarkan taxi ini membawaku pergi dengan tak tentu arah, membawaku yang sedang memaksa diri untuk bisa menerima kenyataan bahwa aku merindu pada kekasih orang. Aku merindu pada mantan suamiku, yang tak mungkin bisa kumiliki lagi. Dan saat ini, kuhanya bisa bilang bahwa Dewantara Adi Satya adalah orang baik yang pantas mendapatkan seorang wanita yang lebih baik dari aku.
Aku hanya bisa membawa perih, sesal dan rindu ini untuk dikubur dalam relung hatiku yang paling dalam.

***






 








Jumat, 16 Oktober 2015

Guru Musafir

Alkisah tentang sebuah keluarga kecil yang mengeluh tentang kesempitan hidupnya di sebuah gubug kecil mereka. Sang istri dan suami hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Tibalah suatu malam sang suami duduk termenung di depan gubug mereka, dan datanglah seorang lelaki dengan baju yang agak lusuh, berpeci dan menggendong tas yang cukup besar. Berkatalah seorang lelaki yang baru datang itu,

"Assalamu'alaikum.. Maaf Saudaraku mengganggu istirahatnya. Bisakah kami meminta sedikit nasi sisa dari gubugmu?"

"Wa'alaikumsalam.. Oh yaa.. kami masih punya sedikit nasi. Masuklah.."

"Oh..tidak usah, kami tunggu diluar saja. Saya bersama anak dan istri saya"

Si empunya gubug menoleh ke samping, disebelah lelaki tadi ada seorang wanita setengah baya bergamis hitam dengan kerudung panjangnya bersama dua lelaki remaja yang memakai peci dan kain mirip sorban, juga dua orang anak kecil perempuan dengan jilbab lebar, dan yang satu lagi yang paling kecil anak laki-laki berpeci. Mereka tersenyum, seperti menemukan harapan baru. Masuklah sang suami ke gubug kecilnya menemui sang istri untuk mengambil nasi sisa yang mereka punya.

"Ummi.. Di depan sana ada orang yang meminta sedikit sisa nasi kita. Berikanlah.."

Sang istri segera mengambil mangkuk, namun yang tersisa hanyalah dua centong nasi merah yang mereka punya. Diambilnya semua nasi merah itu, sepotong ikan kecil, dan beberapa sendok sayur yang masih ada di gubug mereka. Juga air minum dituangkannya dalam bejana kecil. Sekiranya sang istri sambil berdoa. 

"Yaa..Allah meskipun sedikit yang mampu kami berikan untuk mereka, jadikanlah semangkuk nasi dan sedikit air di bejana ini menjadi pengurang beban mereka."

Sang istri keluar dan memberikan sebungkus panganan tadi kepada wanita paruh baya itu. Langsung saja sang wanita paruh baya tadi mencium tangan sang istri diikuti dengan anak2nya yang masih kecil. 

"Ini Ummi... Mohon maaf hanya sedikit nasi merah ini yang kami punya. Semoga bisa membantu." kata sang istri.

"Terima kasih.. Terima kasih Saudariku.." katanya dengan wajah berseri.

"Ya Ummi.. Dari mana sebelumnya?"

"Kami dari Marbath al-Muhrar ingin bertemu Saudara kami di Tabuk, namun dalam perjalanan pulang uang kami dicuri dan kami tidak punya apa-apa saat ini."

"MasyaaAllah.. kami antar kalian ke sampai keujung perbatasan sana nanti akan ada angkutan yang bisa kalian tumpangi."

"Tidak usah.. biar kami berjalan.. Terima kasih yaa Ukhti.."

Keluarga itu pergi sambil terus berucap terima kasih pada sang istri. Melihat keluarga itu berlalu sang istri pun masuk ke dalam rumah dan berucap pada sang suami.

"Apakah ada sedikit uang? Berikanlah pada mereka, dengan apa mereka bisa membayar angkutan yang akan mereka tumpangi sedang mereka baru saja kecurian." 

"Ya..aku ada sedikit uang, memang akan ku berikan untuk mereka. Memang tidak banyak tapi aku yakin ini akan sangat membantu mereka."

Sepasang suami istri ini pun bergegas menyusul keluarga musafir tadi dengan kereta kuda yang mereka punya. Tentunya keluarga tadi belum terlalu jauh. Benar saja, mereka masih berjalan sampai ke perbatasan. Dihampirilah keluarga tadi oleh sang istri sementara sang suami menunggu di kereta.

"Yaa..Ummi.. Kami ada sedikit uang untukmu. Terima lah.."

"Tidak..tidak usah Ukhti.. Kami sudah merepotkanmu dengan meminta nasi sisa di gubugmu.."

"Tak mengapa.. Terimalah.. Bukankah sesama muslim harus saling menolong..". Ditariknya tangan wanita paruh baya itu, digenggamkannya sedikit uang tadi.

"Terimalah..aku mohon."

"Terima kasih Ukhti..". Wanita paruh baya tadi langsung memeluknya erat..erat sekali. Seketika itu mengalir deras air mata sang istri, tak menyangka hatinya bahwa ditengah kesempitan rezeki yang ia alami masih ada yang jauh lebih sempit dan mereka masih terlihat tangguh. Fabiayyi alaa irobbikuma tukadzibaan..

"Ayo..ikut dalam kereta kami. Akan kami antar kalian ke perbatasan. Naiklah.. Kasihan anak-anak."
"Tidak.. terima kasih. Kami bau, biar kami berjalan.. Terima kasih terima kasih..." kata wanita itu.

"Tidak perlu Saudariku.. Biar kami berjalan, kami sudah merepotkanmu. Kaki kami sudah terlanjur lecet. Kembalilah pulang ke gubugmu. Kami ucapkan terima kasih." Sang lelaki berpeci ikut bersuara.

"Baiklah.. Semoga Allah menjaga kalian sampai pulang ke Marbath al-Muhrar."

                                                      ***

Kisah diatas singkat namun penuh arti bagi sepasang suami istri itu. Mereka makin sadar bahwa tidak ada kesulitan yang tidak akan Allah bantu. Sadar bahwa sesulit dan sesempit yang mereka alami ternyata Allah masih menguji lebih sempit pada orang lain, maka berhentilah mengeluh kepada Allah. Mereka juga sadar bahwa sesungguhnya rezeki manusia itu telah dijamin oleh Allah. Dan tangguhlah kami dalam setiap ujian yang diberikan Allah padamu. Dan malam itu mereka belajar dari keluarga musafir. 



 

Selasa, 29 September 2015

Video Hannan


Adek Hannan mulai makan.. Lap lep lap lep..

Menjadi Ibu itu... (3)

Aku mau bilang kalau badai itu pasti berlalu.. Dari postingan terakhir, alhamdulillah sekitar 5 hari kemudian anak2 berangsur sembuh. Si kakak kakinya sudah bisa jalan normal, demamnya sudah turun, matanya sudah sembuh dan batuknya berangsur hilang. Si Adek, batuknya juga berangsur hilang dan matanya juga sudah sembuh setelah aku bawa ke RS Mata Yap. Oya, aku belum cerita ya kalau setelah posting kemarin si Hannan matanya merah dan belekan. Huhuhu. Tapi alhamdulillah semua itu sudah berlalu. Dan yang menyenangkan juga, tanggal 16 - 20 September kemarin eyang kakung sama eyang uti dateng ke Yogya. Alhamdulillah udah pada sembuh. Senangnyaaaa.... Kami jalan2 ke tempat wisata air terjun Sri Gethuk Gunung Kidul. Dan barusan aja, tanggal 23 - 25 September kemarin nenek sama kakek juga dateng ke Yogya buat lebaran Idul Adha disini. Alhamdulillah seneng banget...

Ini nih buat flashback foto-foto kemarin..

Ini waktu anak2 masih seger alias belom sakit

Hannan 5 bulan


Saat mulai sakit, badannya menyusut..  
sayangnya foto kakak burem jadi gak di upload..
 



Yang ini waktu bolak balik RS untuk nebul Hannan..
 
Nebul pertama Hannan bobo

Nebul kedua bangun dan berontak
 Dan semua sudah sehat sekarang..


Kakak Faiq lagi sholat Ied (Idul Adha)

Adek Hannan udah ketawa-ketawa

07.11.2018

07.11.2018 23:19 Duduk di sudut ruang tamu, sendirian. Hanya ditemani suara desir kipas angin berjarak 2 meter. Menunggu seseorang di uju...